Dipaksa untuk berpisah darimu membuat setiap pertemuan kita terasa semakin berharga.
Pernahkah kamu menyisihkan sebentar waktumu untuk merenungkan apa yang telah terjadi di antara kita? Aku sering.
Bernostalgia, entah berwujud kenangan pahit atau bahagia.
Entah berakhir tangis atau tawa.
Aku masih ingat bagaimana kita menjadi dekat.
Bagaimana setiap pelukmu terasa hangat.
Bagaimana senyummu menjadi tenaga penyemangat.
Bagaimana akhirnya kita tak hanya menjadi dekat, tapi berujung lekat.
Karenamu, aku belajar menjadi dewasa.
Bersamamu, aku belajar menjadi manusia.
Denganmu, aku belajar menderita.
Darimu, aku belajar berbahagia.
Bagiku, kamu adalah segalanya.
Aku tidak berlebihan juga tidak sedang mengada-ada.
Kamu lihat sendiri bagaimana aku memperlakukanmu sehari-harinya.
Kamu rasakan sendiri bagaimana aku menganggapmu istimewa.
Kita pernah gagal. Itu menyakitkan bukan?
Yang awalnya berkawan, ujungnya berlawan.
Kita pernah berdiri di ujung jurang rawan.
Tidak, bahkan kita pernah sampai jatuh dan kesakitan.
Namun, kini tangan kita sudah kembali saling genggam.
Tidak perlu lagi terendam dalam kalut, tidak perlu lagi karam sampai tenggelam.
Kamu tahu, aku sangat senang bisa kembali pulang.
Aku sangat senang kamu kembali pulang.
Beberapa bagian atap masih bocor hingga hujan leluasa masuk.
Mari kita perbaiki dan renovasi.
Jangan biarkan lagi udara dingin menghujam dan menusuk.
Kita berhak punya kesempatan satu kali lagi.
Jadi,
Di rumah saja, ya?

Comments
Post a Comment