Skip to main content

Merindu dan Harapan Agar Kamu Baik-baik Saja



Dipaksa untuk berpisah darimu membuat setiap pertemuan kita terasa semakin berharga.
Pernahkah kamu menyisihkan sebentar waktumu untuk merenungkan apa yang telah terjadi di antara kita? Aku sering.
Bernostalgia, entah berwujud kenangan pahit atau bahagia.
Entah berakhir tangis atau tawa.

Aku masih ingat bagaimana kita menjadi dekat.
Bagaimana setiap pelukmu terasa hangat.
Bagaimana senyummu menjadi tenaga penyemangat.
Bagaimana akhirnya kita tak hanya menjadi dekat, tapi berujung lekat.

Karenamu, aku belajar menjadi dewasa.
Bersamamu, aku belajar menjadi manusia.
Denganmu, aku belajar menderita.
Darimu, aku belajar berbahagia.

Bagiku, kamu adalah segalanya.
Aku tidak berlebihan juga tidak sedang mengada-ada.
Kamu lihat sendiri bagaimana aku memperlakukanmu sehari-harinya.
Kamu rasakan sendiri bagaimana aku menganggapmu istimewa.

Kita pernah gagal. Itu menyakitkan bukan?
Yang awalnya berkawan, ujungnya berlawan. 
Kita pernah berdiri di ujung jurang rawan. 
Tidak, bahkan kita pernah sampai jatuh dan kesakitan.

Namun, kini tangan kita sudah kembali saling genggam.
Tidak perlu lagi terendam dalam kalut, tidak perlu lagi karam sampai tenggelam.
Kamu tahu, aku sangat senang bisa kembali pulang.
Aku sangat senang kamu kembali pulang.

Beberapa bagian atap masih bocor hingga hujan leluasa masuk.
Mari kita perbaiki dan renovasi.
Jangan biarkan lagi udara dingin menghujam dan menusuk.
Kita berhak punya kesempatan satu kali lagi.

Jadi,
Di rumah saja, ya?

Comments

Popular posts from this blog

Zat Adiktif

Jika senyummu adalah zat adiktif terlarang Maka aku rela seumur hidup dipenjara Daripada aku gila lalu mati Karena sakau tidak melihatmu tersenyum

Perjalanan

Di sela-sela perjalanan panjang dan berliku, hubungan ini kembali menemui hari perayaannya untuk yang ketujuh kalinya, hari yang menandai dimulainya perjalanan kita sebagai dua orang yang sepasang, tujuh tahun silam. Hari di mana kita memutuskan untuk merangkai impian dan harapan masing-masing menjadi cita-cita bersama. Hari di mana kita meyakinkan diri bahwa apa pun yang akan terjadi di depan sana haruslah dihadapi berdua. Hari di mana aku tak lagi hanya tentang aku dan kamu tak lagi hanya soal kamu, tetapi ada kita. Aku sering menggambarkan hubungan ini sebagai perjalanan. Maju ke depan, berbelok, memutar balik, berhenti, mundur ke belakang, menanjak, menukik, jatuh, pelan, kencang, macet, sengang, pantat yang panas, punggung yang pegal, pelukan hangat, pertengkaran hebat, perbincangan serius, umpatan kasar, obrolan penuh canda tawa, tangan yang digenggam, bahu yang dipakai bersandar, panas, hujan, terik, dingin, cerah, basah, hubungan kita tidak ubahnya adalah sebuah perjalanan ters...

Melangkah

Melangkah. Tak peduli apa yang akan dihadapi di depan, teruslah melangkah. Entah itu jalanan mulus beraspal, tanjakan dengan bebatuan terjal, tanah berlumpur yang basah dan licin, turunan yang curam, tak usah dipedulikan, tetaplah melangkah. Entah yang ada di depan sana hangat dan terang benderang, atau dingin dan gelap gulita, lanjutlah melangkah. Bukan berarti tidak boleh berhenti. Jika lelah, menepilah. Istirahatkan tubuh dan pikiran. Jika sudah, kembalilah melangkah. Juga bukan berarti tidak boleh menengok ke belakang. Jika ingin menyerah, lihatlah jauh ke belakang. Lihat sudah seberapa jauh diri ini melangkah untuk sampai di titik ini. Lihat segala kesulitan yang telah berhasil dilalui untuk berada di posisi sekarang. Setelah melihat ke belakang, patutlah berbangga diri. Untuk sampai menjadi seperti saat ini, bukan perkara gampang. Berbanggalah. Hidup adalah perjalanan. Derita pada akhirnya akan menjadi cerita, begitu pula dengan cinta. Hidupi perjalanan, jalani kehidupan. Entah n...