Skip to main content

Masa Depan, Ketidaktahuan, dan Ketakutan


Pernahkah kamu memikirkan bagaimana jadinya kita nanti di masa depan? Terkadang aku melakukannya.

Berbagai kemungkinan yang akan terjadi  di masa depan sangat tidak terbatas. Sejujurnya aku takut, terutama ketika memikirkan bagian terburuknya. Aku tidak tahu akan seperti apa aku lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi, dua puluh tahun lagi. Tidak ada yang bisa mengetahuinya. Ketidaktahuan itulah yang membuatku takut. Aku takut sekali hal yang sangat buruk terjadi pada diriku di masa depan nanti.

Aku sangat takut kehilanganmu lagi.

Entah kamu pergi dengan orang lain, atau pergi ke dunia lain. Yang jelas, aku tidak dapat menemui lagi, sebagai pasanganku.

Apakah kamu memiliki ketakutan yang sama?

Tetapi, di balik rasa takut itu, tersimpan keberanian yang lebih besar.

Aku masih ingat ketika pertama kali aku jatuh cinta kepadamu. Pagi itu aku sedang melihat ke arah pintu masuk kelas, lalu tak lama kamu datang dan masuk ke kelas, berjalan menuju meja paling belakang, dekat dengan jendela yang menghadap ke koridor. Pandanganku saat itu tidak bisa terlepas darimu, tanpa aku sadari.

Seiring waktu berjalan, kita menjadi semakin mengenal dan saling memahami satu sama lain. Siapa yang sangka bahwa aku akhirnya menyatakan cintaku padamu. Itu bukan hal yang biasa aku lakukan. Bahkan seingatku sepertinya aku pertama kali melakukan itu. Aku tidak pernah berpikir akan menjadi sosok romantis yang memberikan setangkai bunga mawar kepadamu. Entah tindakan itu lebih tepat disebut nekat atau gila. Kabar baiknya, kamu menerimanya.

Sebetulnya aku sudah tau kamu juga menyimpan perasaan yang sama kepadaku. Kita sama-sama memilih untuk saling mencintai. Aku pikir itu cara yang bagus untuk memulai. Satu keberanian yang kulakukan, kemudian membentuk diriku hari ini. Jika aku punya kekuatan untuk kembali ke masa lalu, aku ingin menyaksikannya sekali lagi. Aku ingin berterima kasih kepada diriku sendiri karena telah memilih orang yang tepat.

Bertahun-tahun yang lalu, hingga sampai ke hari ini, aku masih membuat tulisan yang ditujukan kepada orang yang sama. Jika saja saat itu aku terlalu takut untuk mengajakmu berpacaran, pasti tulisan ini tidak akan pernah kamu baca. Kejadian bertahun-tahun lalu, menentukan tindakan kecil yang terjadi hari ini. Kalau dipikir-pikir terasa menakjubkan, sekaligus mengerikan.

Aku adalah seseorang yang percaya pada konsekuensi. Bagiku, terlepas dari konsep baik atau buruk, setiap tindakan yang kita lakukan pasti mengandung konsekuensi setelahnya. Kita memang tidak bisa memprediksi masa depan, tapi setiap tindakan yang kita lakukan saat ini sudah dengan sendirinya mengandung konsekuensi yang bisa kita perkirakan. Seperti yang aku lakukan sekarang, menulis untukmu dan memilih untuk tidak tidur. Konsekuensinya adalah saat pagi pasti aku akan mengantuk. Kira-kira seperti itu.

Begitu pula ketika aku memilih untuk mencintaimu satu kali lagi. Aku menyadari konsekuensinya, entah kamu akan memilih untuk mencintaiku sepenuh hati sepanjang hidupmu ke depan, atau nanti kamu akan meninggalkanku lagi seperti kemarin. Mungkin kamu sendiri tidak tahu jawabannya. Tetapi aku memilih untuk berani daripada takut. Seandainya kamu akan pergi lagi, setidaknya kita pernah saling mencintai dan kenangan itu pasti selalu terasa menyenangkan bila diingat kembali. Seperti bagaimana aku selalu tersenyum ketika mengingat pertama kali aku mencium pipi gembilmu itu.

Aku tidak tahu harus bagaimana untuk menutup tulisan ini. Bagian yang paling tidak aku sukai dari menulis ada mengakhirinya. Aku masih ingin meracau, tapi saat ini aku kehabisan kata-kata. Mungkin sampai sini saja, nanti aku pasti akan menulis lagi untukmu. Semoga kamu menantikannya.

Oh iya, aku ingin menantangmu: beranikah kamu melangkah denganku, menghadapi masa depan bersama? Kali ini aku tidak mengizinkanmu untuk menyerah lagi!


Comments

Popular posts from this blog

Zat Adiktif

Jika senyummu adalah zat adiktif terlarang Maka aku rela seumur hidup dipenjara Daripada aku gila lalu mati Karena sakau tidak melihatmu tersenyum

Perjalanan

Di sela-sela perjalanan panjang dan berliku, hubungan ini kembali menemui hari perayaannya untuk yang ketujuh kalinya, hari yang menandai dimulainya perjalanan kita sebagai dua orang yang sepasang, tujuh tahun silam. Hari di mana kita memutuskan untuk merangkai impian dan harapan masing-masing menjadi cita-cita bersama. Hari di mana kita meyakinkan diri bahwa apa pun yang akan terjadi di depan sana haruslah dihadapi berdua. Hari di mana aku tak lagi hanya tentang aku dan kamu tak lagi hanya soal kamu, tetapi ada kita. Aku sering menggambarkan hubungan ini sebagai perjalanan. Maju ke depan, berbelok, memutar balik, berhenti, mundur ke belakang, menanjak, menukik, jatuh, pelan, kencang, macet, sengang, pantat yang panas, punggung yang pegal, pelukan hangat, pertengkaran hebat, perbincangan serius, umpatan kasar, obrolan penuh canda tawa, tangan yang digenggam, bahu yang dipakai bersandar, panas, hujan, terik, dingin, cerah, basah, hubungan kita tidak ubahnya adalah sebuah perjalanan ters...

Melangkah

Melangkah. Tak peduli apa yang akan dihadapi di depan, teruslah melangkah. Entah itu jalanan mulus beraspal, tanjakan dengan bebatuan terjal, tanah berlumpur yang basah dan licin, turunan yang curam, tak usah dipedulikan, tetaplah melangkah. Entah yang ada di depan sana hangat dan terang benderang, atau dingin dan gelap gulita, lanjutlah melangkah. Bukan berarti tidak boleh berhenti. Jika lelah, menepilah. Istirahatkan tubuh dan pikiran. Jika sudah, kembalilah melangkah. Juga bukan berarti tidak boleh menengok ke belakang. Jika ingin menyerah, lihatlah jauh ke belakang. Lihat sudah seberapa jauh diri ini melangkah untuk sampai di titik ini. Lihat segala kesulitan yang telah berhasil dilalui untuk berada di posisi sekarang. Setelah melihat ke belakang, patutlah berbangga diri. Untuk sampai menjadi seperti saat ini, bukan perkara gampang. Berbanggalah. Hidup adalah perjalanan. Derita pada akhirnya akan menjadi cerita, begitu pula dengan cinta. Hidupi perjalanan, jalani kehidupan. Entah n...