Skip to main content

Manusia, Hujan, dan Hatinya yang Misterius


Isi hati manusia itu misterius. Tidak ada yang bisa menebaknya, bahkan dirinya sendiri. Perasaan itu, selalu saja berubah sepanjang hidupnya. Perasaan itulah yang membentuk dirinya hari ini.

Baik, jahat, suka, benci, bahagia, marah, lega, sesak, senang, menderita, tawa, tangis, riang, luka, ceria, trauma, gembira, kecewa, semua itu yang menjadikan ia manusia. Semua itu yang mengisi hidupku, hidupmu, hidup setiap orang. Kadang datang bergantian, kadang bersamaan. Itu juga yang mengiringi kita, sampai kepada bentuk kita saat ini, hari ini, hari di mana kamu membaca ini, dengan suaraku terbayang di kepalamu, dengan senyum sumringah terlukis di wajah manismu, terapit oleh pipi besarmu yang menggemaskan itu. Sementara aku sendiri saat menulis ini sembari membayangkan apa yang aku tulis pada kalimat sebelum ini.

Meskipun ada prakiraan cuaca, hujan kadang muncul tiba-tiba tanpa terduga. Atau, tiba-tiba panas terik menyengat muncul pada siang hari di tengah musim hujan. Yang ingin aku katakan adalah, bahkan isi hati langit pun sulit untuk ditebak.

Namun, kepasrahan bukanlah jawaban. Aku sangat benci bersikap pasrah, perasaan yang diselimuti rasa menyerah itu sangat menyebalkan. Aku benci kekalahan. Sekali pun aku harus kalah, setidaknya aku harus berjuang dulu. Setidaknya ada yang aku lakukan, tidak berdiam diri lalu dihempas kekalahan, terpental jauh menuju kepayahan, mati karena kesalahan.

Aku tau, hari-hariku semenjak tahun lalu banyak dipenuhi hujan. Aku yang tidak membawa payung ataupun jas hujan, jelas kebasahan. Aku yang tak punya persiapan, jelas kelabakan. Tak jarang sampai kebanjiran. Hujan menggenangi separuh tubuhku, hampir mengambil alih hidupku. Pernah sekali, ia sudah sampai seperempat wajahku, hampir memenuhi hidungku, hampir merenggut nyawaku. Hanya karena aku lupa membawa payung atau jas hujan, masa depanku terancam.

Sekarang musim panas. Langit sering kali cerah, tapi aku bukanlah aku yang ceroboh seperti kemarin. Payung kecil yang mudah dilipat, tersedia kapan saja di dalam tas selempangku. Aku selalu membawanya, takut-takut kalau sampai hujan lagi, aku tak sempat berteduh lalu kebasahan. Diguyur hujan sendirian, selain membuat kedinginan juga adalah pengalaman memalukan. Aku tak akan membiarkan hujan mengambil alih atas diriku lagi. Mau bagaimana aku, adalah aku yang menentukan. Dan ada hal yang benar-benar aku inginkan untuk terjadi dan terus terjadi:

Aku ingin selalu bersamamu.

Orang-orang yang tidak memahami perasaanku akan mengatakan perkataanku menjijikan. Tidak, itu bukan omong kosong atau perasaan sesaat, aku sudah mengharapkan itu terjadi, tak lama setelah perasaanku sampai kepadamu. Aku selalu menginginkan itu, sekali pun aku bisa membahagiakan diriku sendiri, hanya kamu yang bisa melengkapinya. Hanya kamu yang aku inginkan, kamulah yang aku pilih untuk menemaniku, menghabiskan hari-hariku sampai tiada lagi hari tersisa untuk dihabiskan. Sampai di mana aku terbaring kaku di dalam tanah, lalu kamu datang setiap hari untuk meletakkan setangkai bunga, mengajakku berbicara, menceritakan hari-harimu yang membosankan karena aku telah pergi meninggalkanmu lebih dulu. Atau sebaliknya. Atau kita pergi di waktu yang sama. Sampai waktu itu tiba, aku hanya ingin bersamamu. Tidak ada yang lain, hanya kamu.

Aku tidak ingin kehilanganmu untuk yang ketiga kalinya, tapi jika itu terjadi, kurasa aku sudah lebih siap dari sebelumnya. Mungkin sakitnya akan sama, mungkin hujan akan sedingin biasanya, tapi kali ini aku sudah membawa payung, aku tak lagi bodoh menghadapi badai tanpa perlindungan. Dinginnya tak hilang, tapi setidaknya aku tak perlu kebasahan. Aku juga yakin kamu tidak akan memilih jalan lain. Kehangatanmu ada di sini: di pelukanku. Kamu tidak sebodoh itu untuk pergi mengejar hujan, kan? Mungkin iya, jika kamu ingin sakit lagi. Akan tetapi, siapa yang pernah berharap dirinya sakit? Aku sih tidak pernah. Kalau kamu?

Berjanjilah padaku. Ah tidak, berjanjilah pada dirimu sendiri, seburuk apapun masa lalumu, semengerikan apapun masa depanmu: jadilah orang baik.

Isi hati manusia itu misterius, tapi aku yakin siapa pun dia, aku, atau kamu, pasti menginginkan kebahagiaan.

Karena itu, aku ingin selalu bahagia bersamamu.

Comments

Popular posts from this blog

Zat Adiktif

Jika senyummu adalah zat adiktif terlarang Maka aku rela seumur hidup dipenjara Daripada aku gila lalu mati Karena sakau tidak melihatmu tersenyum

Perjalanan

Di sela-sela perjalanan panjang dan berliku, hubungan ini kembali menemui hari perayaannya untuk yang ketujuh kalinya, hari yang menandai dimulainya perjalanan kita sebagai dua orang yang sepasang, tujuh tahun silam. Hari di mana kita memutuskan untuk merangkai impian dan harapan masing-masing menjadi cita-cita bersama. Hari di mana kita meyakinkan diri bahwa apa pun yang akan terjadi di depan sana haruslah dihadapi berdua. Hari di mana aku tak lagi hanya tentang aku dan kamu tak lagi hanya soal kamu, tetapi ada kita. Aku sering menggambarkan hubungan ini sebagai perjalanan. Maju ke depan, berbelok, memutar balik, berhenti, mundur ke belakang, menanjak, menukik, jatuh, pelan, kencang, macet, sengang, pantat yang panas, punggung yang pegal, pelukan hangat, pertengkaran hebat, perbincangan serius, umpatan kasar, obrolan penuh canda tawa, tangan yang digenggam, bahu yang dipakai bersandar, panas, hujan, terik, dingin, cerah, basah, hubungan kita tidak ubahnya adalah sebuah perjalanan ters...

Melangkah

Melangkah. Tak peduli apa yang akan dihadapi di depan, teruslah melangkah. Entah itu jalanan mulus beraspal, tanjakan dengan bebatuan terjal, tanah berlumpur yang basah dan licin, turunan yang curam, tak usah dipedulikan, tetaplah melangkah. Entah yang ada di depan sana hangat dan terang benderang, atau dingin dan gelap gulita, lanjutlah melangkah. Bukan berarti tidak boleh berhenti. Jika lelah, menepilah. Istirahatkan tubuh dan pikiran. Jika sudah, kembalilah melangkah. Juga bukan berarti tidak boleh menengok ke belakang. Jika ingin menyerah, lihatlah jauh ke belakang. Lihat sudah seberapa jauh diri ini melangkah untuk sampai di titik ini. Lihat segala kesulitan yang telah berhasil dilalui untuk berada di posisi sekarang. Setelah melihat ke belakang, patutlah berbangga diri. Untuk sampai menjadi seperti saat ini, bukan perkara gampang. Berbanggalah. Hidup adalah perjalanan. Derita pada akhirnya akan menjadi cerita, begitu pula dengan cinta. Hidupi perjalanan, jalani kehidupan. Entah n...