Skip to main content

Cerita Tentang Seorang Laki-laki yang Sedang Duduk Sendiri



Aku suka duduk sendiri dan merenung
Sesekali aku menepi
Mengisi kursi kosong
Di taman; di trotoar; di pikiranmu

Tidak ada siapa-siapa di kanan-kiriku
Hanya dedaunan gugur layu
Tertiup terbang bersama debu
Suara angin menderu
Hanya aku dan pikiranmu

Aku tenggelam tenang
Membayangkan seumur hidup kelak bersamamu
Tenang berpindah senang
Merasakanmu mendaratkan pelukanmu

Senang bergeser menang
Hari kemenangan bukanlah lebaran
Tapi saat di mana kamu menenggelamkanku
Ke dalam pelukanmu

Pikiranku mengoceh tak jelas
Tersenyum sendiri terbayang
Bahagianya hari ini aku adalah bagianmu
Kamu adalah bagianku

Tuturku tak karuan begini
Sampai kamu tidak mengerti
Satu yang perlu kamu mengerti:
Aku menyayangimu tanpa henti

Aku masih duduk sendiri
Tadinya sempat bersama luka
Tapi sudah kuusir pergi
Karena aku dan kamu ingin bahagia

Sudah cukup berbicara sendiri
Mentari berpindah ke belahan bumi lain
Waktunya berdiri dan pulang
Kembali padamu yang menunggu di rumah

Comments

Popular posts from this blog

Zat Adiktif

Jika senyummu adalah zat adiktif terlarang Maka aku rela seumur hidup dipenjara Daripada aku gila lalu mati Karena sakau tidak melihatmu tersenyum

Perjalanan

Di sela-sela perjalanan panjang dan berliku, hubungan ini kembali menemui hari perayaannya untuk yang ketujuh kalinya, hari yang menandai dimulainya perjalanan kita sebagai dua orang yang sepasang, tujuh tahun silam. Hari di mana kita memutuskan untuk merangkai impian dan harapan masing-masing menjadi cita-cita bersama. Hari di mana kita meyakinkan diri bahwa apa pun yang akan terjadi di depan sana haruslah dihadapi berdua. Hari di mana aku tak lagi hanya tentang aku dan kamu tak lagi hanya soal kamu, tetapi ada kita. Aku sering menggambarkan hubungan ini sebagai perjalanan. Maju ke depan, berbelok, memutar balik, berhenti, mundur ke belakang, menanjak, menukik, jatuh, pelan, kencang, macet, sengang, pantat yang panas, punggung yang pegal, pelukan hangat, pertengkaran hebat, perbincangan serius, umpatan kasar, obrolan penuh canda tawa, tangan yang digenggam, bahu yang dipakai bersandar, panas, hujan, terik, dingin, cerah, basah, hubungan kita tidak ubahnya adalah sebuah perjalanan ters...

Melangkah

Melangkah. Tak peduli apa yang akan dihadapi di depan, teruslah melangkah. Entah itu jalanan mulus beraspal, tanjakan dengan bebatuan terjal, tanah berlumpur yang basah dan licin, turunan yang curam, tak usah dipedulikan, tetaplah melangkah. Entah yang ada di depan sana hangat dan terang benderang, atau dingin dan gelap gulita, lanjutlah melangkah. Bukan berarti tidak boleh berhenti. Jika lelah, menepilah. Istirahatkan tubuh dan pikiran. Jika sudah, kembalilah melangkah. Juga bukan berarti tidak boleh menengok ke belakang. Jika ingin menyerah, lihatlah jauh ke belakang. Lihat sudah seberapa jauh diri ini melangkah untuk sampai di titik ini. Lihat segala kesulitan yang telah berhasil dilalui untuk berada di posisi sekarang. Setelah melihat ke belakang, patutlah berbangga diri. Untuk sampai menjadi seperti saat ini, bukan perkara gampang. Berbanggalah. Hidup adalah perjalanan. Derita pada akhirnya akan menjadi cerita, begitu pula dengan cinta. Hidupi perjalanan, jalani kehidupan. Entah n...