Skip to main content

Dari Mawar Sampai Kamu



Kata-kata ini tersusun sendiri
Untuk mengenang wafatnya kesendirianku
Yang dikubur dalam-dalam
Ditimbun kebahagiaan
dan disiram kepung senyuman
Karena aku telah dipertemukan denganmu

Hari itu, tiga tahun lalu
Setangkai bunga mawar
Dari penggalan namamu
Mekar dari tas rongsokku
Sebagai pertanda bahwa
Ruangan tua yang bau
Sudut kosong yang berdebu itu
Telah disulap seketika
Menjadi taman surgawi
Dipenuhi canda tawamu

Aku tampar diriku sendiri
Melalui bising di kepala
"Sadar kau idiot"
"Sadar"
Ternyata adalah nyata
Aku memang tidak sedang bermimpi
Tangan dingin yang menggenggammu
Memang tanganku
Yang mengutarakan kepastian
Bahwa kamu jugalah aku

Hari ini, setelah hari itu
Gula masih manis
Tambah manis
Senyumanmu juga
Asal aku tidak mati diabetes
Tak apa

Ini bukan gombal gembel
Sudah kubilang di awal
Kata-kata ini tersusun sendiri
Sebagai penguat
Pernyataan hebat
Bahwa aku
cinta

kamu.

Comments

Popular posts from this blog

Zat Adiktif

Jika senyummu adalah zat adiktif terlarang Maka aku rela seumur hidup dipenjara Daripada aku gila lalu mati Karena sakau tidak melihatmu tersenyum

Perjalanan

Di sela-sela perjalanan panjang dan berliku, hubungan ini kembali menemui hari perayaannya untuk yang ketujuh kalinya, hari yang menandai dimulainya perjalanan kita sebagai dua orang yang sepasang, tujuh tahun silam. Hari di mana kita memutuskan untuk merangkai impian dan harapan masing-masing menjadi cita-cita bersama. Hari di mana kita meyakinkan diri bahwa apa pun yang akan terjadi di depan sana haruslah dihadapi berdua. Hari di mana aku tak lagi hanya tentang aku dan kamu tak lagi hanya soal kamu, tetapi ada kita. Aku sering menggambarkan hubungan ini sebagai perjalanan. Maju ke depan, berbelok, memutar balik, berhenti, mundur ke belakang, menanjak, menukik, jatuh, pelan, kencang, macet, sengang, pantat yang panas, punggung yang pegal, pelukan hangat, pertengkaran hebat, perbincangan serius, umpatan kasar, obrolan penuh canda tawa, tangan yang digenggam, bahu yang dipakai bersandar, panas, hujan, terik, dingin, cerah, basah, hubungan kita tidak ubahnya adalah sebuah perjalanan ters...

Melangkah

Melangkah. Tak peduli apa yang akan dihadapi di depan, teruslah melangkah. Entah itu jalanan mulus beraspal, tanjakan dengan bebatuan terjal, tanah berlumpur yang basah dan licin, turunan yang curam, tak usah dipedulikan, tetaplah melangkah. Entah yang ada di depan sana hangat dan terang benderang, atau dingin dan gelap gulita, lanjutlah melangkah. Bukan berarti tidak boleh berhenti. Jika lelah, menepilah. Istirahatkan tubuh dan pikiran. Jika sudah, kembalilah melangkah. Juga bukan berarti tidak boleh menengok ke belakang. Jika ingin menyerah, lihatlah jauh ke belakang. Lihat sudah seberapa jauh diri ini melangkah untuk sampai di titik ini. Lihat segala kesulitan yang telah berhasil dilalui untuk berada di posisi sekarang. Setelah melihat ke belakang, patutlah berbangga diri. Untuk sampai menjadi seperti saat ini, bukan perkara gampang. Berbanggalah. Hidup adalah perjalanan. Derita pada akhirnya akan menjadi cerita, begitu pula dengan cinta. Hidupi perjalanan, jalani kehidupan. Entah n...