Skip to main content

Momen Biasa Saja


Sebuah momen yang mungkin dianggap biasa saja

Pertemuan selepas jam kantor

Menyantap nasi goreng di pinggir jalan

Menikmati hembusan angin malam


Bermacet-macetan bersama para pekerja kerah biru lainnya

Duduk berdua di atas motor tuaku

Biasa saja, tak ada gemerlap

Tak ada kejutan buket bunga dan boneka

Hanya redam redup lampu ibukota


Namun, jarak dan lama tanpa pertemuan membuat segalanya dirindukan

Jemari lembut mungil melingkari pinggang

Bersamaan dengan dagu yang ditopang bahu

Juga sesekali helm di kepalamu dan kepalaku berbenturan kecil

Menimbulkan sedikit suara seperti diketuk, tertutup oleh banyak suara tawa kita berdua


Terlihat biasa saja

Tak ada yang istimewa

Ya, mungkin pendapat itu ada benarnya

Bagi mereka yang hanya melihatnya, tapi tidak pernah mengalaminya sendiri


Cobalah sesekali merasakan, maka kamu akan merindukan

Seperti aku merindukan untuk mengulangi pengalaman menyenangkan itu lagi

Bersamamu

Comments

Popular posts from this blog

Zat Adiktif

Jika senyummu adalah zat adiktif terlarang Maka aku rela seumur hidup dipenjara Daripada aku gila lalu mati Karena sakau tidak melihatmu tersenyum

Perjalanan

Di sela-sela perjalanan panjang dan berliku, hubungan ini kembali menemui hari perayaannya untuk yang ketujuh kalinya, hari yang menandai dimulainya perjalanan kita sebagai dua orang yang sepasang, tujuh tahun silam. Hari di mana kita memutuskan untuk merangkai impian dan harapan masing-masing menjadi cita-cita bersama. Hari di mana kita meyakinkan diri bahwa apa pun yang akan terjadi di depan sana haruslah dihadapi berdua. Hari di mana aku tak lagi hanya tentang aku dan kamu tak lagi hanya soal kamu, tetapi ada kita. Aku sering menggambarkan hubungan ini sebagai perjalanan. Maju ke depan, berbelok, memutar balik, berhenti, mundur ke belakang, menanjak, menukik, jatuh, pelan, kencang, macet, sengang, pantat yang panas, punggung yang pegal, pelukan hangat, pertengkaran hebat, perbincangan serius, umpatan kasar, obrolan penuh canda tawa, tangan yang digenggam, bahu yang dipakai bersandar, panas, hujan, terik, dingin, cerah, basah, hubungan kita tidak ubahnya adalah sebuah perjalanan ters...

Melangkah

Melangkah. Tak peduli apa yang akan dihadapi di depan, teruslah melangkah. Entah itu jalanan mulus beraspal, tanjakan dengan bebatuan terjal, tanah berlumpur yang basah dan licin, turunan yang curam, tak usah dipedulikan, tetaplah melangkah. Entah yang ada di depan sana hangat dan terang benderang, atau dingin dan gelap gulita, lanjutlah melangkah. Bukan berarti tidak boleh berhenti. Jika lelah, menepilah. Istirahatkan tubuh dan pikiran. Jika sudah, kembalilah melangkah. Juga bukan berarti tidak boleh menengok ke belakang. Jika ingin menyerah, lihatlah jauh ke belakang. Lihat sudah seberapa jauh diri ini melangkah untuk sampai di titik ini. Lihat segala kesulitan yang telah berhasil dilalui untuk berada di posisi sekarang. Setelah melihat ke belakang, patutlah berbangga diri. Untuk sampai menjadi seperti saat ini, bukan perkara gampang. Berbanggalah. Hidup adalah perjalanan. Derita pada akhirnya akan menjadi cerita, begitu pula dengan cinta. Hidupi perjalanan, jalani kehidupan. Entah n...