Skip to main content

Sebuah Upaya untuk Bangkit Kembali


Kamu yang paling mengerti betapa kuat keinginanku untuk menyerah

Beberapa kali masih sempat terbesit di kepala

Rasa sakit yang tak pernah berkesudahan

Kukira aku sudah sepenuhnya menerima

Tapi ada kalanya nyeri di dada, yang rasanya seperti ditusuk-tusuk jarum itu, datang lagi

Tak jarang datang berulang kali dalam sehari

Juga di saat aku hendak menyelesaikan kalimat ini


Aku masih di sini, menegakkan kepala, menguatkan kaki


Terlalu keras berusaha menghindari

Terlalu memaksakan diri untuk lari

Jujur, aku tak selalu kuat menghadapi

Sering kali aku bersembunyi


Aku masih di sini, membusungkan dada, jemari tangan terkepal di kedua sisi


Aku hanya ingin dihargai

Aku hanya ingin dicintai

Aku hanya ingin dilihat sebagai manusia, yang punya hati


Sebagaimana bekas luka di lututku yang tak pernah menghilang

Mungkin di hati ini juga sama

Setidaknya bekas luka di lututku ini tak pernah terasa nyeri lagi

Semoga apa yang ada di hati ini juga sama, meski entah kapan datangnya


Berjanjilah pada dirimu sendiri


Jangan digores kembali, ya?

Comments

Popular posts from this blog

Zat Adiktif

Jika senyummu adalah zat adiktif terlarang Maka aku rela seumur hidup dipenjara Daripada aku gila lalu mati Karena sakau tidak melihatmu tersenyum

Perjalanan

Di sela-sela perjalanan panjang dan berliku, hubungan ini kembali menemui hari perayaannya untuk yang ketujuh kalinya, hari yang menandai dimulainya perjalanan kita sebagai dua orang yang sepasang, tujuh tahun silam. Hari di mana kita memutuskan untuk merangkai impian dan harapan masing-masing menjadi cita-cita bersama. Hari di mana kita meyakinkan diri bahwa apa pun yang akan terjadi di depan sana haruslah dihadapi berdua. Hari di mana aku tak lagi hanya tentang aku dan kamu tak lagi hanya soal kamu, tetapi ada kita. Aku sering menggambarkan hubungan ini sebagai perjalanan. Maju ke depan, berbelok, memutar balik, berhenti, mundur ke belakang, menanjak, menukik, jatuh, pelan, kencang, macet, sengang, pantat yang panas, punggung yang pegal, pelukan hangat, pertengkaran hebat, perbincangan serius, umpatan kasar, obrolan penuh canda tawa, tangan yang digenggam, bahu yang dipakai bersandar, panas, hujan, terik, dingin, cerah, basah, hubungan kita tidak ubahnya adalah sebuah perjalanan ters...

Melangkah

Melangkah. Tak peduli apa yang akan dihadapi di depan, teruslah melangkah. Entah itu jalanan mulus beraspal, tanjakan dengan bebatuan terjal, tanah berlumpur yang basah dan licin, turunan yang curam, tak usah dipedulikan, tetaplah melangkah. Entah yang ada di depan sana hangat dan terang benderang, atau dingin dan gelap gulita, lanjutlah melangkah. Bukan berarti tidak boleh berhenti. Jika lelah, menepilah. Istirahatkan tubuh dan pikiran. Jika sudah, kembalilah melangkah. Juga bukan berarti tidak boleh menengok ke belakang. Jika ingin menyerah, lihatlah jauh ke belakang. Lihat sudah seberapa jauh diri ini melangkah untuk sampai di titik ini. Lihat segala kesulitan yang telah berhasil dilalui untuk berada di posisi sekarang. Setelah melihat ke belakang, patutlah berbangga diri. Untuk sampai menjadi seperti saat ini, bukan perkara gampang. Berbanggalah. Hidup adalah perjalanan. Derita pada akhirnya akan menjadi cerita, begitu pula dengan cinta. Hidupi perjalanan, jalani kehidupan. Entah n...