Skip to main content

Tentang Rindu

Di tengah malam tanpa angin, ditemani bulu hangat seekor kucing, dadaku tiba-tiba merasakan sesak yang tak tertahankan. Awalnya aku tak mengerti kenapa, hingga aku mulai menyadarinya: rindu yang sudah kupendam, ternyata sudah terlalu dalam.

Aku tidak ingat jelas kapan pertama kali aku mulai merasakan rindu padamu, tapi yang pasti itu telah terjadi beratus-ratus hari yang lalu. Meskipun bukan makanan baru, aku masih saja payah dalam menghadapi rindu. Bertemu, bertemu, dan memelukmu, selalu pasti jadi obat yang aku mau. Bukan hanya tentang kemauanku, pasti dirimu juga sepakat denganku.

"Yang diharapkan setelah rindu adalah sebuah temu."

Merindu merupakan kegiatan yang melelahkan. Perasaan ingin bertemu, yang bila dibiarkan akan semakin menggebu-gebu, sedikit-banyak pasti akan mengganggu pikiranku, pikiranmu, yang tak jarang berakhir dengan tangisan sedu. Namun tak apa, rindu jugalah tanda bahwa kehadiran seseorang itu sangat berharga. Biar semenit saja, kamu pasti menginginkan bertemu dengannya. Biar sedetik saja, asalkan bisa bertemu, pasti akan berusaha menggapainya. Untuk itu, nikmatilah selagi masih mampu merindu, hargailah setiap pertemuan sebelum kembali merindu.

Tak apa menderita sebentar karena rindu, karena kebahagiaan saat bertemu sedang menantimu.

Sampai bertemu di lain waktu untuk melunasi rindu, cintaku.

Comments

Popular posts from this blog

Zat Adiktif

Jika senyummu adalah zat adiktif terlarang Maka aku rela seumur hidup dipenjara Daripada aku gila lalu mati Karena sakau tidak melihatmu tersenyum

Perjalanan

Di sela-sela perjalanan panjang dan berliku, hubungan ini kembali menemui hari perayaannya untuk yang ketujuh kalinya, hari yang menandai dimulainya perjalanan kita sebagai dua orang yang sepasang, tujuh tahun silam. Hari di mana kita memutuskan untuk merangkai impian dan harapan masing-masing menjadi cita-cita bersama. Hari di mana kita meyakinkan diri bahwa apa pun yang akan terjadi di depan sana haruslah dihadapi berdua. Hari di mana aku tak lagi hanya tentang aku dan kamu tak lagi hanya soal kamu, tetapi ada kita. Aku sering menggambarkan hubungan ini sebagai perjalanan. Maju ke depan, berbelok, memutar balik, berhenti, mundur ke belakang, menanjak, menukik, jatuh, pelan, kencang, macet, sengang, pantat yang panas, punggung yang pegal, pelukan hangat, pertengkaran hebat, perbincangan serius, umpatan kasar, obrolan penuh canda tawa, tangan yang digenggam, bahu yang dipakai bersandar, panas, hujan, terik, dingin, cerah, basah, hubungan kita tidak ubahnya adalah sebuah perjalanan ters...

Melangkah

Melangkah. Tak peduli apa yang akan dihadapi di depan, teruslah melangkah. Entah itu jalanan mulus beraspal, tanjakan dengan bebatuan terjal, tanah berlumpur yang basah dan licin, turunan yang curam, tak usah dipedulikan, tetaplah melangkah. Entah yang ada di depan sana hangat dan terang benderang, atau dingin dan gelap gulita, lanjutlah melangkah. Bukan berarti tidak boleh berhenti. Jika lelah, menepilah. Istirahatkan tubuh dan pikiran. Jika sudah, kembalilah melangkah. Juga bukan berarti tidak boleh menengok ke belakang. Jika ingin menyerah, lihatlah jauh ke belakang. Lihat sudah seberapa jauh diri ini melangkah untuk sampai di titik ini. Lihat segala kesulitan yang telah berhasil dilalui untuk berada di posisi sekarang. Setelah melihat ke belakang, patutlah berbangga diri. Untuk sampai menjadi seperti saat ini, bukan perkara gampang. Berbanggalah. Hidup adalah perjalanan. Derita pada akhirnya akan menjadi cerita, begitu pula dengan cinta. Hidupi perjalanan, jalani kehidupan. Entah n...