Di tengah malam tanpa angin, ditemani bulu hangat seekor kucing, dadaku tiba-tiba merasakan sesak yang tak tertahankan. Awalnya aku tak mengerti kenapa, hingga aku mulai menyadarinya: rindu yang sudah kupendam, ternyata sudah terlalu dalam.
Aku tidak ingat jelas kapan pertama kali aku mulai merasakan rindu padamu, tapi yang pasti itu telah terjadi beratus-ratus hari yang lalu. Meskipun bukan makanan baru, aku masih saja payah dalam menghadapi rindu. Bertemu, bertemu, dan memelukmu, selalu pasti jadi obat yang aku mau. Bukan hanya tentang kemauanku, pasti dirimu juga sepakat denganku.
"Yang diharapkan setelah rindu adalah sebuah temu."
Merindu merupakan kegiatan yang melelahkan. Perasaan ingin bertemu, yang bila dibiarkan akan semakin menggebu-gebu, sedikit-banyak pasti akan mengganggu pikiranku, pikiranmu, yang tak jarang berakhir dengan tangisan sedu. Namun tak apa, rindu jugalah tanda bahwa kehadiran seseorang itu sangat berharga. Biar semenit saja, kamu pasti menginginkan bertemu dengannya. Biar sedetik saja, asalkan bisa bertemu, pasti akan berusaha menggapainya. Untuk itu, nikmatilah selagi masih mampu merindu, hargailah setiap pertemuan sebelum kembali merindu.
Tak apa menderita sebentar karena rindu, karena kebahagiaan saat bertemu sedang menantimu.
Sampai bertemu di lain waktu untuk melunasi rindu, cintaku.

Comments
Post a Comment