Skip to main content

Manusia dan Masalah


Apa yang kamu ketahui tentang kehidupan? Sama, sampai saat ini aku juga tidak mengetahuinya, apa lagi untuk bisa sampai memahaminya. Bagiku, kehidupan sebagian besar hanyalah tentang perpindahan dari satu masalah ke masalah lain. Ke mana pun kita menentukan langkah, entah berbelok, mundur, atau bahkan tidak ke mana-mana, yang akan kita hadapi berikutnya adalah masalah. Sebaik atau seburuk apapun kamu menyelesaikan satu masalah, kamu akan tetap dihadapkan dengan masalah yang baru. Rentetan masalah yang telah berhasil atau tidak berhasil kamu selesaikan, itulah yang membentuk dirimu juga diriku hari ini.

Mengapa manusia membenci kesalahan? Jika tidak semua manusia membencinya, setidaknya aku membenci hal itu. Padahal, tidak mungkin ada satu orang pun yang bisa seratus persen menyelesaikan masalahnya dengan benar di sepanjang hidupnya. Sekali pun ia telah menyadari, memprediksi, memperkirakan, atau memperhitungkan dengan baik bahwa apa yang ia lakukan akan berakhir salah, ia tetap melakukannya. Terdengar bodoh, bukan? Seharusnya jika sudah tau tindakannya adalah salah, ia tidak akan pernah melakukannya, kan? Sayangnya manusia adalah makhluk yang bodoh. Termasuk diriku, yang membenci kesalahan di saat diri sendiri juga seringkali bersalah. Lagi pula, terkadang kita bahkan tidak menyadari bahwa apa yang telah kita lakukan itu salah dan baru menyadari setelah melakukannya. Sekali lagi, aku ingin menegaskan bahwa manusia adalah makhluk yang bodoh.


Aku benci harus mengatakan kalimat klise ini, tetapi dengan kesalahan justru manusia akan belajar, entah untuk memperbaiki kesalahan berikutnya atau menciptakan kesalahan baru yang lebih besar. Belajar dari kesalahan, sebagaimana pun pahitnya, dengan mengalaminya manusia bisa tumbuh. Itu juga yang berusaha aku tanamkan pada diriku, sehingga aku punya alasan jelas mengapa sedikit-sedikit aku menolehkan pandanganku ke belakang, agar bayangan itu terus berada di belakang. Tidak akan aku biarkan ia mendahuluiku lagi, membuatku terjatuh karena melintasi lubang yang sama lagi.


Berbicara tentang masalah dan diriku sendiri, bisa dibilang selalu terjadi pertarungan sengit di antara kami. Ada kalanya aku harus kalah dan menderita, tetapi tidak jarang juga aku menang dan bahagia. Aku sudah ditakdirkan, ah tidak, lebih tepatnya dikutuk untuk menghadapi pertarungan bodoh ini di sepanjang hidupku, hingga satu-satunya hal yang bisa mengalahkanku dengan pukulan telak adalah kematian.


Ada kalanya masalah yang manusia hadapi tidak bisa diselesaikan sendirian, begitu juga denganku. Walaupun diriku seringkali bisa menghadapi segalanya sendirian, aku tetap membutuhkan seseorang untuk mengatakan padaku bahwa semuanya akan baik-baik saja...


...dan aku selalu ingin mendengar itu darimu.

Comments

Popular posts from this blog

Zat Adiktif

Jika senyummu adalah zat adiktif terlarang Maka aku rela seumur hidup dipenjara Daripada aku gila lalu mati Karena sakau tidak melihatmu tersenyum

Perjalanan

Di sela-sela perjalanan panjang dan berliku, hubungan ini kembali menemui hari perayaannya untuk yang ketujuh kalinya, hari yang menandai dimulainya perjalanan kita sebagai dua orang yang sepasang, tujuh tahun silam. Hari di mana kita memutuskan untuk merangkai impian dan harapan masing-masing menjadi cita-cita bersama. Hari di mana kita meyakinkan diri bahwa apa pun yang akan terjadi di depan sana haruslah dihadapi berdua. Hari di mana aku tak lagi hanya tentang aku dan kamu tak lagi hanya soal kamu, tetapi ada kita. Aku sering menggambarkan hubungan ini sebagai perjalanan. Maju ke depan, berbelok, memutar balik, berhenti, mundur ke belakang, menanjak, menukik, jatuh, pelan, kencang, macet, sengang, pantat yang panas, punggung yang pegal, pelukan hangat, pertengkaran hebat, perbincangan serius, umpatan kasar, obrolan penuh canda tawa, tangan yang digenggam, bahu yang dipakai bersandar, panas, hujan, terik, dingin, cerah, basah, hubungan kita tidak ubahnya adalah sebuah perjalanan ters...

Melangkah

Melangkah. Tak peduli apa yang akan dihadapi di depan, teruslah melangkah. Entah itu jalanan mulus beraspal, tanjakan dengan bebatuan terjal, tanah berlumpur yang basah dan licin, turunan yang curam, tak usah dipedulikan, tetaplah melangkah. Entah yang ada di depan sana hangat dan terang benderang, atau dingin dan gelap gulita, lanjutlah melangkah. Bukan berarti tidak boleh berhenti. Jika lelah, menepilah. Istirahatkan tubuh dan pikiran. Jika sudah, kembalilah melangkah. Juga bukan berarti tidak boleh menengok ke belakang. Jika ingin menyerah, lihatlah jauh ke belakang. Lihat sudah seberapa jauh diri ini melangkah untuk sampai di titik ini. Lihat segala kesulitan yang telah berhasil dilalui untuk berada di posisi sekarang. Setelah melihat ke belakang, patutlah berbangga diri. Untuk sampai menjadi seperti saat ini, bukan perkara gampang. Berbanggalah. Hidup adalah perjalanan. Derita pada akhirnya akan menjadi cerita, begitu pula dengan cinta. Hidupi perjalanan, jalani kehidupan. Entah n...