Jantung yang cuma satu-satunya itu menggelinding. Lalu remuk dilindas truk.
Malam itu jalanan sangat ramai. Tapi sungguh tidak ada apa-apanya dibanding isi kepala pria itu. Isi kepalanya berseteru hebat, sampai terpecah menjadi dua kubu. Kita sebut saja Kubu Kanan dan Kiri agar lebih mudah mengingatnya.
Kata "apa-apa" yang keluar dari mulut wanita yang duduk di jok belakang sepeda motornya menimbulkan perdebatan di otak sang pria.
Kubu Kanan begitu polos mempercayainya.
Kubu Kiri terlalu kritis menentangnya.
Pria itu termenung di antaranya.
Sakit kepala.
Luka lama yang sudah dipendam dalam-dalam, kembali infeksi
menimbulkan nyeri.
Prasangka demi prasangka bangkit dari kubur.
Dalam sekejap tumbuh subur.
Siap disayur.
Keributan dua kubu sempat mereda, saat si pria kehilangan kata-kata.
Jalanan masih sangat ramai, tapi dia tidak bisa mendengar apa-apa.
Selain "apa-apa" yang diputar ulang ribuan kali oleh kepalanya.
Air mata tertahan di bendungan matanya.
Ingin sekali ditumpahkannya.
Tapi tidak bisa setelah ia melirik ke arah mata wanitanya.
Dada sesak, mati rasa.
"Apa yang mereka lakukan?"
"Apa yang dilakukan mereka?"
"Mereka melakukan apa?"
Teriak isi kepala sang pria, menuntut kejelasan.
"Apa-apa itu apa?"
"Apa itu apa-apa?"
"APA?!"
Kepalanya meledak, menjadi kaset rusak.
Peperangan kedua kubu semakin keras.
Membuang-buang pemikirian cerdas.
Hingga logika si pria mereka tindas.
Kubu Kiri hampir memenangkan pertarungan.
Perkataan kasar dari mulut sang pria hampir tertuang.
Namun Kubu Kanan menyerang dan sementara menang.
Suasana kembali tenang.
Entah kapan pertarungan bodoh itu akan tamat.
Atau harus menunggu datangnya kiamat?
Si pria dengan kesabaran super itu terus termenung.
Setelah sekian lama isi kepalanya mendung.
Masih tak tahu mana yang harus ia dukung.
Satu-satunya hal yang membuatnya bertahan adalah kepercayaan.
Yang masih dikuat dijadikan pegangan.
Meski sudah tak terlalu benderang.
Dalam gelap, jauh dari gemerlap, si pria berharap.
Semoga bukan apa-apa.
Semoga tidak ada apa-apa.
Semoga bidadari cantik itu segera memberi kejelasan.
"Jika memang ada apa-apa, tak apa, aku tetap menyayanginya," gumam pria itu, yang diakhiri senyuman.

Comments
Post a Comment