Skip to main content

Sihir Bernama Cinta

Cinta itu seperti sihir. Wajah masam dan muram yang tidak sedap dipandang bisa diubahnya menjadi pemancar kebahagiaan yang selalu mampu melukiskan senyuman. Jantung yang ogah-ogahan berdetak bisa berubah menjadi pejuang yang berdetak dengan tekad dan semangat berapi-api. Bahkan mungkin bila mayat yang hanya tersisa tulang-belulang disuntikkan cinta, iya mampu kembali untuk berdiri tegak dan menari salsa karena cinta kembali hadir untuk menghidupkannya. Kamu pasti tertawa karena imajinasiku terkesan mengada-ada, tapi kamu harus percaya padaku, cinta mempunyai sihir yang lebih gila dari itu. Karena cinta berasal dari Tuhan, dan Tuhan mampu melakukan apapun, termasuk merasuki setan-setan dengan kasih-Nya. Nggak kebayang kalo setan beneran kerasukan, hihihi.

Sebelum kamu datang untuk menghandirkan cinta, hidupku juga sebenernya sudah bahagia. Aku bebas melakukan apapun yang ingin aku lakukan. Tapi kebahagiaan tanpa cinta terdengar jauh lebih hina dibanding tersiksa karena cinta. Kalau dipikir-pikir, orang sinting mana yang bahagia saat dirinya tersesat sendirian, tak tau ke mana harus pulang dan berlindung saat badai datang? Itu aku, dulu, sebelum kamu menampar logikaku hingga retak dan terdapat celah untuk kamu aliri cinta.

Seperti kalimat pertama dari tulisan ini, cinta itu seperti sihir. Itu yang aku rasakan setelah bertemu denganmu. Setiap kali aku memejamkan mata dan memikirkan senyummu, tiba-tiba saja bibirku melekuk dan membentuk cermin kebahagiaan yang dinamakan senyuman. Setiap kali aku berada di dekatmu, rasanya sulit sekali untuk mengontrol persendian. Jantungku berdebar lebih keras dari sound system di acara konser musik. Saking kerasnya sampai-sampai aku merasa tak lagi memiliki jantung. Sinting. Aku sampai menghayal jika kamu sebenarnya adalah jelmaan bidadari yang memiliki kekuatan sihir karena dengan begitu mudahnya kamu mampu menguapkan kesedihanku dan mengubahnya menjadi gelak tawa dan senyum bahagia. Memikirkan hal itu membuatku gila!

Cinta memang seperti sihir, tapi cintaku bukanlah sihir, cintaku adalah kamu. Dan itu selalu kamu.

Comments

Popular posts from this blog

Zat Adiktif

Jika senyummu adalah zat adiktif terlarang Maka aku rela seumur hidup dipenjara Daripada aku gila lalu mati Karena sakau tidak melihatmu tersenyum

Perjalanan

Di sela-sela perjalanan panjang dan berliku, hubungan ini kembali menemui hari perayaannya untuk yang ketujuh kalinya, hari yang menandai dimulainya perjalanan kita sebagai dua orang yang sepasang, tujuh tahun silam. Hari di mana kita memutuskan untuk merangkai impian dan harapan masing-masing menjadi cita-cita bersama. Hari di mana kita meyakinkan diri bahwa apa pun yang akan terjadi di depan sana haruslah dihadapi berdua. Hari di mana aku tak lagi hanya tentang aku dan kamu tak lagi hanya soal kamu, tetapi ada kita. Aku sering menggambarkan hubungan ini sebagai perjalanan. Maju ke depan, berbelok, memutar balik, berhenti, mundur ke belakang, menanjak, menukik, jatuh, pelan, kencang, macet, sengang, pantat yang panas, punggung yang pegal, pelukan hangat, pertengkaran hebat, perbincangan serius, umpatan kasar, obrolan penuh canda tawa, tangan yang digenggam, bahu yang dipakai bersandar, panas, hujan, terik, dingin, cerah, basah, hubungan kita tidak ubahnya adalah sebuah perjalanan ters...

Melangkah

Melangkah. Tak peduli apa yang akan dihadapi di depan, teruslah melangkah. Entah itu jalanan mulus beraspal, tanjakan dengan bebatuan terjal, tanah berlumpur yang basah dan licin, turunan yang curam, tak usah dipedulikan, tetaplah melangkah. Entah yang ada di depan sana hangat dan terang benderang, atau dingin dan gelap gulita, lanjutlah melangkah. Bukan berarti tidak boleh berhenti. Jika lelah, menepilah. Istirahatkan tubuh dan pikiran. Jika sudah, kembalilah melangkah. Juga bukan berarti tidak boleh menengok ke belakang. Jika ingin menyerah, lihatlah jauh ke belakang. Lihat sudah seberapa jauh diri ini melangkah untuk sampai di titik ini. Lihat segala kesulitan yang telah berhasil dilalui untuk berada di posisi sekarang. Setelah melihat ke belakang, patutlah berbangga diri. Untuk sampai menjadi seperti saat ini, bukan perkara gampang. Berbanggalah. Hidup adalah perjalanan. Derita pada akhirnya akan menjadi cerita, begitu pula dengan cinta. Hidupi perjalanan, jalani kehidupan. Entah n...