Skip to main content

Malam Seindah Biasanya


Sebuah pesan singkat menyalakan layar

Datang kabar darimu yang bergegas pulang

Sepertinya malam seindah biasanya


Seperti kuda piƱata

Kejutan apa lagi yang mungkin meledak hari ini

Semoga ada permen manis


Kuda besi putih bertenaga 150 cc

Meluncur gagah membelah udara malam

Menggapai yang sedari tadi dinanti


Gemercik gerimis kecil

Bersama senyum bulan purnama berlesung pipi

Terserah suasana hati langit saja


Ternyata kali ini sampai lebih dulu

Menandakan keakraban dengan jeda tunggu

Malam tidak harus terburu-buru


Suara kereta menggetarkan telinga

Suara langkah kakimu menuruni tangga

Menggetarkan dada


Mulut terbuka ceria

Mengucapkan nama panggilanku

Malam yang diinginkan tiba


Suara putaran kunci pintu

Ruang berantakan menyambut datangmu

Sekali lagi hari berjalan baik-baik saja


Pintu kamar kembali terbuka

Kucing yang lebih besar melompat ke kasur

Satunya lagi duduk di depan pintu


Memasuki waktu makan malam

Senyawa apa lagi yang memasuki mulut

Perut punya banyak pilihan


Keduanya merebah lelah

Kamu dengan duniamu di sisi satunya

Aku di sisi satunya lagi


Rembulan ikut lelah

Beserta perut yang sedari tadi termenung begah

Bohlam di kamar perlahan terbenam


Matamu terpejam duluan

Setelahnya kening dihadiahi kecupan

Benar, malam seindah biasanya

Comments

Popular posts from this blog

Zat Adiktif

Jika senyummu adalah zat adiktif terlarang Maka aku rela seumur hidup dipenjara Daripada aku gila lalu mati Karena sakau tidak melihatmu tersenyum

Perjalanan

Di sela-sela perjalanan panjang dan berliku, hubungan ini kembali menemui hari perayaannya untuk yang ketujuh kalinya, hari yang menandai dimulainya perjalanan kita sebagai dua orang yang sepasang, tujuh tahun silam. Hari di mana kita memutuskan untuk merangkai impian dan harapan masing-masing menjadi cita-cita bersama. Hari di mana kita meyakinkan diri bahwa apa pun yang akan terjadi di depan sana haruslah dihadapi berdua. Hari di mana aku tak lagi hanya tentang aku dan kamu tak lagi hanya soal kamu, tetapi ada kita. Aku sering menggambarkan hubungan ini sebagai perjalanan. Maju ke depan, berbelok, memutar balik, berhenti, mundur ke belakang, menanjak, menukik, jatuh, pelan, kencang, macet, sengang, pantat yang panas, punggung yang pegal, pelukan hangat, pertengkaran hebat, perbincangan serius, umpatan kasar, obrolan penuh canda tawa, tangan yang digenggam, bahu yang dipakai bersandar, panas, hujan, terik, dingin, cerah, basah, hubungan kita tidak ubahnya adalah sebuah perjalanan ters...

Melangkah

Melangkah. Tak peduli apa yang akan dihadapi di depan, teruslah melangkah. Entah itu jalanan mulus beraspal, tanjakan dengan bebatuan terjal, tanah berlumpur yang basah dan licin, turunan yang curam, tak usah dipedulikan, tetaplah melangkah. Entah yang ada di depan sana hangat dan terang benderang, atau dingin dan gelap gulita, lanjutlah melangkah. Bukan berarti tidak boleh berhenti. Jika lelah, menepilah. Istirahatkan tubuh dan pikiran. Jika sudah, kembalilah melangkah. Juga bukan berarti tidak boleh menengok ke belakang. Jika ingin menyerah, lihatlah jauh ke belakang. Lihat sudah seberapa jauh diri ini melangkah untuk sampai di titik ini. Lihat segala kesulitan yang telah berhasil dilalui untuk berada di posisi sekarang. Setelah melihat ke belakang, patutlah berbangga diri. Untuk sampai menjadi seperti saat ini, bukan perkara gampang. Berbanggalah. Hidup adalah perjalanan. Derita pada akhirnya akan menjadi cerita, begitu pula dengan cinta. Hidupi perjalanan, jalani kehidupan. Entah n...