Skip to main content

Don't Take It For Granted

Bangun pagi (tentu saja dibantu alarm dan suara panggilan dari istri), setelah nyenyak tidur semalaman di kasur yang empuk dan kamar yang dingin. Agak sedikit malas memang, harus segera beranjak dan melangkah ke kamar mandi, kemudian berdandan rapi dan lanjut bergegas ke kantor. Sesampainya di kantor, sudah pasti mengerjakan pekerjaan yang itu lagi itu lagi.

Namun, ketika mencoba mengambil jarak dan merenungkannya sejenak, barulah terbesit di pikiran: bukankah ini kehidupan yang selama ini diinginkan? Pekerjaan dan penghasilan yang stabil, kehidupan yang layak, terlebih lagi hidup ini dijalani tidak hanya sendirian, tetapi berdua bersama seorang istri yang cantik dan penyayang. Bahkan bukan cuma sekadar cantik, tetapi ia yang melengkapi kepingan puzzle terakhir kehidupan. Ini seharusnya lebih dari cukup. Kehidupan yang tadinya untuk dibayangkan saja tidak berani, hari ini ternyata kehidupan itu yang sedang leluasa dijalani.

Maka dari itu, kita mesti tau kapan waktunya harus merasa cukup, dan aku rasa ini semua sudah lebih dari cukup. Inilah kehidupan yang aku inginkan. Kehidupan yang cukup dan patut disyukuri.

Comments

Popular posts from this blog

Zat Adiktif

Jika senyummu adalah zat adiktif terlarang Maka aku rela seumur hidup dipenjara Daripada aku gila lalu mati Karena sakau tidak melihatmu tersenyum

Perjalanan

Di sela-sela perjalanan panjang dan berliku, hubungan ini kembali menemui hari perayaannya untuk yang ketujuh kalinya, hari yang menandai dimulainya perjalanan kita sebagai dua orang yang sepasang, tujuh tahun silam. Hari di mana kita memutuskan untuk merangkai impian dan harapan masing-masing menjadi cita-cita bersama. Hari di mana kita meyakinkan diri bahwa apa pun yang akan terjadi di depan sana haruslah dihadapi berdua. Hari di mana aku tak lagi hanya tentang aku dan kamu tak lagi hanya soal kamu, tetapi ada kita. Aku sering menggambarkan hubungan ini sebagai perjalanan. Maju ke depan, berbelok, memutar balik, berhenti, mundur ke belakang, menanjak, menukik, jatuh, pelan, kencang, macet, sengang, pantat yang panas, punggung yang pegal, pelukan hangat, pertengkaran hebat, perbincangan serius, umpatan kasar, obrolan penuh canda tawa, tangan yang digenggam, bahu yang dipakai bersandar, panas, hujan, terik, dingin, cerah, basah, hubungan kita tidak ubahnya adalah sebuah perjalanan ters...

Melangkah

Melangkah. Tak peduli apa yang akan dihadapi di depan, teruslah melangkah. Entah itu jalanan mulus beraspal, tanjakan dengan bebatuan terjal, tanah berlumpur yang basah dan licin, turunan yang curam, tak usah dipedulikan, tetaplah melangkah. Entah yang ada di depan sana hangat dan terang benderang, atau dingin dan gelap gulita, lanjutlah melangkah. Bukan berarti tidak boleh berhenti. Jika lelah, menepilah. Istirahatkan tubuh dan pikiran. Jika sudah, kembalilah melangkah. Juga bukan berarti tidak boleh menengok ke belakang. Jika ingin menyerah, lihatlah jauh ke belakang. Lihat sudah seberapa jauh diri ini melangkah untuk sampai di titik ini. Lihat segala kesulitan yang telah berhasil dilalui untuk berada di posisi sekarang. Setelah melihat ke belakang, patutlah berbangga diri. Untuk sampai menjadi seperti saat ini, bukan perkara gampang. Berbanggalah. Hidup adalah perjalanan. Derita pada akhirnya akan menjadi cerita, begitu pula dengan cinta. Hidupi perjalanan, jalani kehidupan. Entah n...