Skip to main content

Menu Hari Ini


Kedua lenganmu bersandar di dadaku, menyilang melewati kedua bahuku. Kepalamu bertumpu pada sisi bahu sebelah kanan, bersamaan dengan tubuhmu yang menghantam punggungku, melompat dari arah belakang tanpa aba-aba terlebih dahulu. Adegan gendong-menggendong yang tidak direncanakan terpaksa terjadi. Diakhiri dengan gelak tawa dari kita berdua, tentu saja.

Rambut lembutmu terurai indah bersentuhan dengan pipiku, memunculkan wewangian melewati indra penciuman, membuat dadaku berdegup lebih cepat dari semestinya, membuat napasku tersengal-sengal dengan ritme berantakan. Semudah itu dirimu mengusir pergi segala kerisauan dan keriuhan yang tadinya sempat hinggap lama di dalam kepala.

Kehadiranmu adalah kekacauan, seperti seakan seluruh sel dan organ di dalam tubuh ini lupa apa tugasnya. Mungkin ini adalah satu-satunya kekacauan yang dapat aku nikmati dan tidak akan pernah aku sesali. Ledakan kebahagiaan yang hangat, dibumbui rasa gugup yang pekat, begitu yang tertulis pada lembaran menu jatuh cintaku di hari itu.

Jadi, menu jatuh cinta seperti apa lagi yang akan kamu hadirkan hari ini? Aku tak sabar menantikannya.

Comments

Popular posts from this blog

Zat Adiktif

Jika senyummu adalah zat adiktif terlarang Maka aku rela seumur hidup dipenjara Daripada aku gila lalu mati Karena sakau tidak melihatmu tersenyum

Perjalanan

Di sela-sela perjalanan panjang dan berliku, hubungan ini kembali menemui hari perayaannya untuk yang ketujuh kalinya, hari yang menandai dimulainya perjalanan kita sebagai dua orang yang sepasang, tujuh tahun silam. Hari di mana kita memutuskan untuk merangkai impian dan harapan masing-masing menjadi cita-cita bersama. Hari di mana kita meyakinkan diri bahwa apa pun yang akan terjadi di depan sana haruslah dihadapi berdua. Hari di mana aku tak lagi hanya tentang aku dan kamu tak lagi hanya soal kamu, tetapi ada kita. Aku sering menggambarkan hubungan ini sebagai perjalanan. Maju ke depan, berbelok, memutar balik, berhenti, mundur ke belakang, menanjak, menukik, jatuh, pelan, kencang, macet, sengang, pantat yang panas, punggung yang pegal, pelukan hangat, pertengkaran hebat, perbincangan serius, umpatan kasar, obrolan penuh canda tawa, tangan yang digenggam, bahu yang dipakai bersandar, panas, hujan, terik, dingin, cerah, basah, hubungan kita tidak ubahnya adalah sebuah perjalanan ters...

Melangkah

Melangkah. Tak peduli apa yang akan dihadapi di depan, teruslah melangkah. Entah itu jalanan mulus beraspal, tanjakan dengan bebatuan terjal, tanah berlumpur yang basah dan licin, turunan yang curam, tak usah dipedulikan, tetaplah melangkah. Entah yang ada di depan sana hangat dan terang benderang, atau dingin dan gelap gulita, lanjutlah melangkah. Bukan berarti tidak boleh berhenti. Jika lelah, menepilah. Istirahatkan tubuh dan pikiran. Jika sudah, kembalilah melangkah. Juga bukan berarti tidak boleh menengok ke belakang. Jika ingin menyerah, lihatlah jauh ke belakang. Lihat sudah seberapa jauh diri ini melangkah untuk sampai di titik ini. Lihat segala kesulitan yang telah berhasil dilalui untuk berada di posisi sekarang. Setelah melihat ke belakang, patutlah berbangga diri. Untuk sampai menjadi seperti saat ini, bukan perkara gampang. Berbanggalah. Hidup adalah perjalanan. Derita pada akhirnya akan menjadi cerita, begitu pula dengan cinta. Hidupi perjalanan, jalani kehidupan. Entah n...