Skip to main content

Kamu dan Cantikmu


Percakapan kita semalam tentang betapa cantiknya dirimu membuatku menyadari satu hal: bahwa kamu memang benar-benar sangat cantik!

Sebagai makhluk yang dangkal dan mudah ditebak, hal pertama yang membuatku tertarik padamu jelas adalah wajahmu yang cantik, terutama ketika kamu sedang tersenyum atau menertawakan sesuatu. Melihatmu yang sedang seperti itu, rasanya seperti ada yang memindahkan penangkaran kupu-kupu miliknya ke dalam perutku. Reaksi seperti itu yang selalu aku dapatkan ketika memperhatikanmu, ditambah lagi dengan kedua sisi pipiku yang terasa seperti ditarik menjauhi wajahku. Sangat menyenangkan.

Perasaan senang bisa didapatkan dari hal-hal sederhana, bahkan mungkin cenderung remeh-temeh, sesederhana melihat dirimu hadir langsung di hadapanku. Tidak hanya soal senang, tapi juga hadir perasaan tenang dan bersyukur, bahwa sampai hari ini aku masih memiliki kesempatan untuk hidup dan melihat wajah cantikmu yang dibalut senyuman untuk yang kesekian kali. Jika hari itu aku sudah mati, mungkin aku akan mati dalam penyesalan, sebagai manusia yang paling merugi di dunia, mati dalam keadaan kehilangan senyumanmu yang berharga.

Namun, itu tidak terjadi, karena sampai hari ini cantikmu masih bisa aku nikmati. Besok pun juga, selamanya, semoga.

Comments

Popular posts from this blog

Zat Adiktif

Jika senyummu adalah zat adiktif terlarang Maka aku rela seumur hidup dipenjara Daripada aku gila lalu mati Karena sakau tidak melihatmu tersenyum

Perjalanan

Di sela-sela perjalanan panjang dan berliku, hubungan ini kembali menemui hari perayaannya untuk yang ketujuh kalinya, hari yang menandai dimulainya perjalanan kita sebagai dua orang yang sepasang, tujuh tahun silam. Hari di mana kita memutuskan untuk merangkai impian dan harapan masing-masing menjadi cita-cita bersama. Hari di mana kita meyakinkan diri bahwa apa pun yang akan terjadi di depan sana haruslah dihadapi berdua. Hari di mana aku tak lagi hanya tentang aku dan kamu tak lagi hanya soal kamu, tetapi ada kita. Aku sering menggambarkan hubungan ini sebagai perjalanan. Maju ke depan, berbelok, memutar balik, berhenti, mundur ke belakang, menanjak, menukik, jatuh, pelan, kencang, macet, sengang, pantat yang panas, punggung yang pegal, pelukan hangat, pertengkaran hebat, perbincangan serius, umpatan kasar, obrolan penuh canda tawa, tangan yang digenggam, bahu yang dipakai bersandar, panas, hujan, terik, dingin, cerah, basah, hubungan kita tidak ubahnya adalah sebuah perjalanan ters...

Melangkah

Melangkah. Tak peduli apa yang akan dihadapi di depan, teruslah melangkah. Entah itu jalanan mulus beraspal, tanjakan dengan bebatuan terjal, tanah berlumpur yang basah dan licin, turunan yang curam, tak usah dipedulikan, tetaplah melangkah. Entah yang ada di depan sana hangat dan terang benderang, atau dingin dan gelap gulita, lanjutlah melangkah. Bukan berarti tidak boleh berhenti. Jika lelah, menepilah. Istirahatkan tubuh dan pikiran. Jika sudah, kembalilah melangkah. Juga bukan berarti tidak boleh menengok ke belakang. Jika ingin menyerah, lihatlah jauh ke belakang. Lihat sudah seberapa jauh diri ini melangkah untuk sampai di titik ini. Lihat segala kesulitan yang telah berhasil dilalui untuk berada di posisi sekarang. Setelah melihat ke belakang, patutlah berbangga diri. Untuk sampai menjadi seperti saat ini, bukan perkara gampang. Berbanggalah. Hidup adalah perjalanan. Derita pada akhirnya akan menjadi cerita, begitu pula dengan cinta. Hidupi perjalanan, jalani kehidupan. Entah n...