Rasanya seperti mendaki ratusan anak tangga.
Tidak, lebih buruk lagi, rasanya seperti berusaha merangkak ke atas dengan bergantung pada seutas tali...
...tepat setelah dilempar ke sumur yang sempit dan dalam. Setidaknya di dasar sumur masih terisi air, memang tidak dalam, tapi sanggup menahan seseorang dari kematian yang dipercepat. Tidak terlalu buruk juga. Masih bisa selamat, meski berlumur luka. Padahal lebih baik sumurnya kosong saja, lalu mati dan membusuk sendiri. Gelap, tak akan ada yang mau mencari. Lagi pula, siapa peduli?
Ternyata masih selamat. Entah harus merasa beruntung atau kecewa. Kalau sudah begini, entah suka atau tidak, ya harus bangkit lagi. Terik sinar matahari masih sanggup menembus dan menerangi dinding sumur, ternyata tidak tenggelam sedalam itu untuk kembali ke realitas. Seutas tali tambang yang mengikat kuat ember plastik tua berlumut menjuntai dari langit, satu-satunya kendaraan yang bisa digenggam untuk kembali. Kecuali ingin menunggu tubuh digigit laba-laba agar bisa memanjat dinding licin dengan tangan super lengket, atau justru malah mati keracunan.
Air di sumur ini dingin dan berbau busuk. Sulit membedakan antara bau yang datang dari air atau busuknya kehidupan yang telah dijalani, keduanya sama-sama menghasilkan pengalaman yang tidak menyenangkan. Entah mana yang lebih menyedihkan, terjebak dalam sumur ini atau terjebak dalam kenyataan yang melemparmu ke sumur ini.
Tangan perlahan menggapai tali itu, selangkah demi selang—salah, seharusnya segenggam demi segenggam—tubuh berhasil mencapai ke atas permukaan air. Gemuruh di kepala yang bilang menyerah saja mendadak bersorak optimis minta bangkit saja, entah maunya apa, turuti saja.
Tidak semulus itu juga, beberapa kali jatuh lagi, mulai dari awal lagi. Tak apa, selama matahari belum berhenti menyala, selama bulan belum datang menyapa, kesempatan itu masih ada, percaya saja. Kalaupun gagal, mati di sini tidak buruk juga. Jika akhirnya harus mati, lagi pula, siapa peduli?
Singkat cerita, bibir sumur akhirnya berhasil digapai. Ya, akhirnya berhasil kembali ke kenyataan lagi. Hal pertama yang dilakukan adalah membalut luka, berharap semoga sembuhnya tak perlu menunggu lama.
Langkah pertama setelah kembali menginjakkan kaki pada realitas terasa berat, terseok-seok, ingin rasanya tercebur lagi dan menyudahi segalanya. Menerima kenyataan setelah mengalami gunjangan jiwa dan terjebak di sumur sempit berlumur luka, sudah cukup untuk membuat seseorang menjadi gila. Langkah pertama ini merupakan wujud penerimaan dan tanda kewarasan, jadi sesulit apapun, ya lakukan saja.
Hingga tak terasa sudah satu putaran revolusi bumi kaki melangkah menjauhi sumur kematian itu, walaupun jejaknya masih jelas terlihat, kepingan-kepingan memori yang terekam masih jelas teringat, tak jarang terputar kembali sebelum memejamkan mata. Namun, langkah sudah jauh, tubuh bergerak maju, meski jalan sempat berliku, nyatanya sudah jauh dari titik pertama kali melangkahkan kaki, sudah jauh dari keinginan untuk menyudahi diri. Nyatanya, jalan ke depan masih panjang. Mungkin bertemu sumur yang lebih dalam lagi, lebih sempit lagi, atau menemukan diri sendiri yang lebih baik lagi. Tidak ada yang tahu pasti.
Pilihannya adalah bangkit berdiri lalu berjalan ke depan atau mundur lalu menceburkan diri sendiri ke sumur itu satu kali lagi, atau sumur lain yang siksaannya lebih buruk lagi. Aku* mencoba memilih yang pertama.
*ini adalah kata "aku"** pertama yang ada pada keseluruhan tulisan ini.
**sementara ini yang kedua.

Comments
Post a Comment