Skip to main content

Rindu yang bermain

Rindu. Topik yang tidak pernah ada matinya. Semua orang punya rindunya masing-masing. Rindu pasangan, rindu teman, rindu tanggal gajian, rindu macam-macam. Seperti tidak pernah bosan untuk diulas. Bisa terasa menjijikan, bisa juga menyenangkan. Satu kata di awal paragraf ini punya jutaan makna untuk direnungkan.

Rindu bagiku selalu menghasilkan keheranan. Bagaimana mungkin ia selalu betah berlarian di alam pikiranku ketika kamu tidak hadir di sini, dan itu terjadi sejak beberapa tahun terakhir. Semakin lama durasi kita tidak saling tatap, semakin lama itu pula ia asik sendiri di dalam kepalaku. Kadang menyenangkan untuk tenggelam dalam permainan yang ia ciptakan, tetapi terlalu lama bermain juga membuatku lelah, hingga jenuh. Akhirnya malah menjadi siksaan tersendiri. Meskipun begitu, rindu tidak peduli. Yang ia tahu, ketika kamu tidak ada, itu adalah waktunya bermain.

Semoga kita lekas bertemu, agar rindu bisa tertidur pulas di pangkuanmu.

Comments

Popular posts from this blog

Zat Adiktif

Jika senyummu adalah zat adiktif terlarang Maka aku rela seumur hidup dipenjara Daripada aku gila lalu mati Karena sakau tidak melihatmu tersenyum

Perjalanan

Di sela-sela perjalanan panjang dan berliku, hubungan ini kembali menemui hari perayaannya untuk yang ketujuh kalinya, hari yang menandai dimulainya perjalanan kita sebagai dua orang yang sepasang, tujuh tahun silam. Hari di mana kita memutuskan untuk merangkai impian dan harapan masing-masing menjadi cita-cita bersama. Hari di mana kita meyakinkan diri bahwa apa pun yang akan terjadi di depan sana haruslah dihadapi berdua. Hari di mana aku tak lagi hanya tentang aku dan kamu tak lagi hanya soal kamu, tetapi ada kita. Aku sering menggambarkan hubungan ini sebagai perjalanan. Maju ke depan, berbelok, memutar balik, berhenti, mundur ke belakang, menanjak, menukik, jatuh, pelan, kencang, macet, sengang, pantat yang panas, punggung yang pegal, pelukan hangat, pertengkaran hebat, perbincangan serius, umpatan kasar, obrolan penuh canda tawa, tangan yang digenggam, bahu yang dipakai bersandar, panas, hujan, terik, dingin, cerah, basah, hubungan kita tidak ubahnya adalah sebuah perjalanan ters...

Melangkah

Melangkah. Tak peduli apa yang akan dihadapi di depan, teruslah melangkah. Entah itu jalanan mulus beraspal, tanjakan dengan bebatuan terjal, tanah berlumpur yang basah dan licin, turunan yang curam, tak usah dipedulikan, tetaplah melangkah. Entah yang ada di depan sana hangat dan terang benderang, atau dingin dan gelap gulita, lanjutlah melangkah. Bukan berarti tidak boleh berhenti. Jika lelah, menepilah. Istirahatkan tubuh dan pikiran. Jika sudah, kembalilah melangkah. Juga bukan berarti tidak boleh menengok ke belakang. Jika ingin menyerah, lihatlah jauh ke belakang. Lihat sudah seberapa jauh diri ini melangkah untuk sampai di titik ini. Lihat segala kesulitan yang telah berhasil dilalui untuk berada di posisi sekarang. Setelah melihat ke belakang, patutlah berbangga diri. Untuk sampai menjadi seperti saat ini, bukan perkara gampang. Berbanggalah. Hidup adalah perjalanan. Derita pada akhirnya akan menjadi cerita, begitu pula dengan cinta. Hidupi perjalanan, jalani kehidupan. Entah n...