Skip to main content

Renungan Kemarin Sore



Hujan kemarin sore membuat kepalaku dibanjiri pemikiran-pemikiran tentang apa yang telah kita lalui bersama. Di bawah payung yang kugenggam, di atas jalanan yang tergenang, di tengah jalan yang kebahasan, aku berdiri. Beberapa kali mobil-mobil sialan itu menyambar genangan hingga diriku kebasahan, kedinginan. Namun yang terjadi adalah sudut bibir kiri dan kananku malah beranjak naik. Itu karena isi kepalaku dipenuhi tawa manismu.

Warna demi warna, coretan demi coretan, dan lukisan demi lukisan sudah berhasil kamu pajang di galeri hidupku. Kamu adalah seniman yang mampu menghidupkan siang dan malamku. Seniman yang membuat puluhan gigiku enggan terus-terusan bersembunyi dibalik bibirku, dan ingin memancarkan pesonanya dihadapanmu. Kamulah senimanku.

Aku masih berdiri, masih menikmati banjir di dalam kepala, dan masih tersenyum. Hujan juga enggan berhenti. Dia tau jika aku masih menikmati tetesan-tetesan yang menimbulkan kenangan. Tidak peduli tubuh tumbang dan kelelahan. Karena selalu ada kamu yang mampu membangkitkan.

Dua tahun sudah berlalu, dan aku masih tetap menggandeng jemari yang sama. Tentu seterusnya akan begitu.

Banjir di kepala mulai surut, pindah ke jantung yang semakin kuat berdegup.

Betapa bahagianya aku menjadi bagianmu.

Terima kasih, senimanku.

Comments

Popular posts from this blog

Zat Adiktif

Jika senyummu adalah zat adiktif terlarang Maka aku rela seumur hidup dipenjara Daripada aku gila lalu mati Karena sakau tidak melihatmu tersenyum

Perjalanan

Di sela-sela perjalanan panjang dan berliku, hubungan ini kembali menemui hari perayaannya untuk yang ketujuh kalinya, hari yang menandai dimulainya perjalanan kita sebagai dua orang yang sepasang, tujuh tahun silam. Hari di mana kita memutuskan untuk merangkai impian dan harapan masing-masing menjadi cita-cita bersama. Hari di mana kita meyakinkan diri bahwa apa pun yang akan terjadi di depan sana haruslah dihadapi berdua. Hari di mana aku tak lagi hanya tentang aku dan kamu tak lagi hanya soal kamu, tetapi ada kita. Aku sering menggambarkan hubungan ini sebagai perjalanan. Maju ke depan, berbelok, memutar balik, berhenti, mundur ke belakang, menanjak, menukik, jatuh, pelan, kencang, macet, sengang, pantat yang panas, punggung yang pegal, pelukan hangat, pertengkaran hebat, perbincangan serius, umpatan kasar, obrolan penuh canda tawa, tangan yang digenggam, bahu yang dipakai bersandar, panas, hujan, terik, dingin, cerah, basah, hubungan kita tidak ubahnya adalah sebuah perjalanan ters...

Melangkah

Melangkah. Tak peduli apa yang akan dihadapi di depan, teruslah melangkah. Entah itu jalanan mulus beraspal, tanjakan dengan bebatuan terjal, tanah berlumpur yang basah dan licin, turunan yang curam, tak usah dipedulikan, tetaplah melangkah. Entah yang ada di depan sana hangat dan terang benderang, atau dingin dan gelap gulita, lanjutlah melangkah. Bukan berarti tidak boleh berhenti. Jika lelah, menepilah. Istirahatkan tubuh dan pikiran. Jika sudah, kembalilah melangkah. Juga bukan berarti tidak boleh menengok ke belakang. Jika ingin menyerah, lihatlah jauh ke belakang. Lihat sudah seberapa jauh diri ini melangkah untuk sampai di titik ini. Lihat segala kesulitan yang telah berhasil dilalui untuk berada di posisi sekarang. Setelah melihat ke belakang, patutlah berbangga diri. Untuk sampai menjadi seperti saat ini, bukan perkara gampang. Berbanggalah. Hidup adalah perjalanan. Derita pada akhirnya akan menjadi cerita, begitu pula dengan cinta. Hidupi perjalanan, jalani kehidupan. Entah n...