Skip to main content

Hanya Sebuah Maaf

Sebelum membaca tulisan ini, posisikan dirimu dalam keadaan paling rileks dan nyaman; entah itu sambil duduk, tiduran, atau jungkir balik di atas lemari, terserah. Jika ingin lebih rileks, cobalah untuk membaca tulisan ini sambil mendengarkan lagu dari Justin Bieber yang berjudul Purpose. Aku rasa alunannya cocok untuk menjadi teman membacamu. Tidak usah memperhatikan liriknya, karena sepertinya sama sekali tidak nyambung dengan isi dari tulisan ini.


Membuat kesalahan, meminta maaf, lalu kembali lagi ke awal. Mungkin siklus menyebalkan ini sudah sangat bosan kamu alami selama kamu berbagi kehidupan denganku. Tapi tak pernah bosan aku mengingatkanmu, aku bukanlah sosok pria sempurna yang terdeskripsi indah dalam berbagai dongeng klasik atau pun dalam drama romantis yang pernah kamu tonton. 


Aku adalah aku. Aku adalah benar. Aku juga adalah salah. Aku adalah cinta. Aku juga adalah patah hati. Aku ada di antara semuanya.

Aku bisa jadi alasan mengapa kamu bisa tersenyum tak karuan selama berjam-jam. Aku juga bisa jadi alasan mengapa kamu berkeinginan kuat untuk memukuli tembok hingga merobohkan sebuah bangunan. Aku bisa menjadi keduanya.

Aku bukan manusia berkepribadian ganda. Lagi pula aku juga tidak tau apa-apa tentang manusia yang berkepribadian ganda. Aku hanya ingin memberi tau padamu jika aku tidak akan selalu bisa untuk menjadi seseorang yang sesuai dengan ekspektasimu. Kita pasti akan melakukan kesalahan.

Melakukan kesalahan bukanlah sebuah kesalahan, tapi itu akan menjadi salah apabila kita tidak belajar dari kesalahan yang sama.

Bicara tentang kesalahan, aku mengaku salah atas kejadian siang itu. Aku ternyata tidak belajar dari kesalahan yang sama. Beberapa kali aku memaksa untuk melakukan keintiman secara fisik denganmu di sekolah dan di tempat-tempat lain yang memicu rasa takutmu. Aku merasa bersalah karena tidak menghargai prinsipmu. Jujur, mengurangi intensitas kontak fisik denganmu--perempuan yang begitu aku cintai--sangatlah sulit, apa lagi ditambah dengan fakta bahwa kita jarang berkencan dan sulit bertemu. Saat aku sedang merasa putus asa dan lelah dengan kehidupan, aku ingin sekali memelukmu atau sekedar menggenggam tangan lembutmu. Aku hanya bisa mendapatkan kasih sayang seperti itu darimu. Melakukan kontak fisik denganmu membuatku tenang dan merasa dicintai. Makanya kadang aku tidak kuat menahannya hingga akhirnya membuatmu marah dan ngambek seharian.

Namun kamu tidak perlu khawatir. Meskipun lambat, aku pasti bisa sepenuhnya beradaptasi dengan kondisi ini.

Aku juga ingin meminta maaf karena selama ini aku pernah menyakitimu. Mungkin kata-kata yang keluar dari mulutku terlalu kasar sehingga membuatmu terluka setelah mendengarnya. Mungkin sikapku pernah terlalu dingin padamu hingga membuat perasaanmu membeku dan pecah, hancur, lalu berserakan. Apa pun bentuk kesalahanku selama ini, aku minta maaf. 

Jika kamu ingin marah, aku siap menerimanya. Jika kamu ingin menangis, aku siap memberikan dadaku untuk kamu basahi dengan air matamu. Jika kamu ingin mengutarakan perasaan dan keinginanmu yang selama ini kamu pendam, aku akan dengan senang hati mendengarkan dan mendiskusikannya bersamamu. Jika kamu ingin diam saja dan menganggap bahwa tidak ada masalah di antara kita, aku akan menghargai itu. Yang penting kamu sudah jujur pada dirimu sendiri.

Kesalahan sekecil apa pun, disengaja atau tidak, pasti akan aku perbuat di kemudian hari. Tapi aku pasti juga akan berusaha untuk meminimalisir hal itu agar tidak terus terjadi. Aku akan terus belajar untuk mencintaimu lebih baik lagi.

Comments

Popular posts from this blog

Zat Adiktif

Jika senyummu adalah zat adiktif terlarang Maka aku rela seumur hidup dipenjara Daripada aku gila lalu mati Karena sakau tidak melihatmu tersenyum

Perjalanan

Di sela-sela perjalanan panjang dan berliku, hubungan ini kembali menemui hari perayaannya untuk yang ketujuh kalinya, hari yang menandai dimulainya perjalanan kita sebagai dua orang yang sepasang, tujuh tahun silam. Hari di mana kita memutuskan untuk merangkai impian dan harapan masing-masing menjadi cita-cita bersama. Hari di mana kita meyakinkan diri bahwa apa pun yang akan terjadi di depan sana haruslah dihadapi berdua. Hari di mana aku tak lagi hanya tentang aku dan kamu tak lagi hanya soal kamu, tetapi ada kita. Aku sering menggambarkan hubungan ini sebagai perjalanan. Maju ke depan, berbelok, memutar balik, berhenti, mundur ke belakang, menanjak, menukik, jatuh, pelan, kencang, macet, sengang, pantat yang panas, punggung yang pegal, pelukan hangat, pertengkaran hebat, perbincangan serius, umpatan kasar, obrolan penuh canda tawa, tangan yang digenggam, bahu yang dipakai bersandar, panas, hujan, terik, dingin, cerah, basah, hubungan kita tidak ubahnya adalah sebuah perjalanan ters...

Melangkah

Melangkah. Tak peduli apa yang akan dihadapi di depan, teruslah melangkah. Entah itu jalanan mulus beraspal, tanjakan dengan bebatuan terjal, tanah berlumpur yang basah dan licin, turunan yang curam, tak usah dipedulikan, tetaplah melangkah. Entah yang ada di depan sana hangat dan terang benderang, atau dingin dan gelap gulita, lanjutlah melangkah. Bukan berarti tidak boleh berhenti. Jika lelah, menepilah. Istirahatkan tubuh dan pikiran. Jika sudah, kembalilah melangkah. Juga bukan berarti tidak boleh menengok ke belakang. Jika ingin menyerah, lihatlah jauh ke belakang. Lihat sudah seberapa jauh diri ini melangkah untuk sampai di titik ini. Lihat segala kesulitan yang telah berhasil dilalui untuk berada di posisi sekarang. Setelah melihat ke belakang, patutlah berbangga diri. Untuk sampai menjadi seperti saat ini, bukan perkara gampang. Berbanggalah. Hidup adalah perjalanan. Derita pada akhirnya akan menjadi cerita, begitu pula dengan cinta. Hidupi perjalanan, jalani kehidupan. Entah n...