Skip to main content

Antara Waktu dan Cinta

Sejak awal kita memulai hubungan ini, taukah kamu hal apa yang paling aku benci? Bukan, bukan sifatmu atau tingkah lakumu yang aku benci. Tapi yang aku benci adalah waktu. Waktu yang cepat berlalu. Waktu yang selalu membatasi canda tawa kita. Aku sama sekali tidak menginginkan hari esok setiap kali aku sedang menggenggam lembut jemari tanganmu, menatap sejuknya kedua bola matamu, dan berada dalam hangatnya pelukmu. Tapi sialnya waktu selalu berhasil membuyarkan semuanya. Sial!

Tapi kamu tau tidak, apa hal yang aku suka dari waktu? Aku suka waktu, saat kita sedang bersama. Waktu saat kita sedang bicara berdua sambil menikmati akhir pekan dengan canda dan tawa khas dirimu yang selalu mampu menepi segala penatku setelah berhari-hari terjebak dalam rutinitas yang membosankan. Waktu saat kita sedang berbicara serius mengenai perasaan masing-masing, mengenai hubungan kita ke depan, lalu kamu memecahkan keseriusan tersebut dengan candaan yang sederhana namun memberikan efek bahagia.


Biarlah waktu selalu membatasi setiap perjumpaan kita. Namun yang ku tau pasti, cinta yang sedang kita bangun ini tak memiliki batas waktu. Dengan waktu, buktikanlah pada dunia, cinta kita selalu hadir pada setiap detiknya :)

Comments

Popular posts from this blog

Zat Adiktif

Jika senyummu adalah zat adiktif terlarang Maka aku rela seumur hidup dipenjara Daripada aku gila lalu mati Karena sakau tidak melihatmu tersenyum

Perjalanan

Di sela-sela perjalanan panjang dan berliku, hubungan ini kembali menemui hari perayaannya untuk yang ketujuh kalinya, hari yang menandai dimulainya perjalanan kita sebagai dua orang yang sepasang, tujuh tahun silam. Hari di mana kita memutuskan untuk merangkai impian dan harapan masing-masing menjadi cita-cita bersama. Hari di mana kita meyakinkan diri bahwa apa pun yang akan terjadi di depan sana haruslah dihadapi berdua. Hari di mana aku tak lagi hanya tentang aku dan kamu tak lagi hanya soal kamu, tetapi ada kita. Aku sering menggambarkan hubungan ini sebagai perjalanan. Maju ke depan, berbelok, memutar balik, berhenti, mundur ke belakang, menanjak, menukik, jatuh, pelan, kencang, macet, sengang, pantat yang panas, punggung yang pegal, pelukan hangat, pertengkaran hebat, perbincangan serius, umpatan kasar, obrolan penuh canda tawa, tangan yang digenggam, bahu yang dipakai bersandar, panas, hujan, terik, dingin, cerah, basah, hubungan kita tidak ubahnya adalah sebuah perjalanan ters...

Melangkah

Melangkah. Tak peduli apa yang akan dihadapi di depan, teruslah melangkah. Entah itu jalanan mulus beraspal, tanjakan dengan bebatuan terjal, tanah berlumpur yang basah dan licin, turunan yang curam, tak usah dipedulikan, tetaplah melangkah. Entah yang ada di depan sana hangat dan terang benderang, atau dingin dan gelap gulita, lanjutlah melangkah. Bukan berarti tidak boleh berhenti. Jika lelah, menepilah. Istirahatkan tubuh dan pikiran. Jika sudah, kembalilah melangkah. Juga bukan berarti tidak boleh menengok ke belakang. Jika ingin menyerah, lihatlah jauh ke belakang. Lihat sudah seberapa jauh diri ini melangkah untuk sampai di titik ini. Lihat segala kesulitan yang telah berhasil dilalui untuk berada di posisi sekarang. Setelah melihat ke belakang, patutlah berbangga diri. Untuk sampai menjadi seperti saat ini, bukan perkara gampang. Berbanggalah. Hidup adalah perjalanan. Derita pada akhirnya akan menjadi cerita, begitu pula dengan cinta. Hidupi perjalanan, jalani kehidupan. Entah n...